Foto : Sebanyak 947 prajurit Bintara Remaja dan Tamtama Remaja Korps Marinir TNI Angkatan Laut resmi menyandang baret ungu usai menuntaskan Pendidikan Komando (Dikko) Korps Marinir. (DOK. Dispen Korps Marinir TNI Angkatan Laut)
JAKARTA – Sebanyak 947 prajurit Bintara Remaja dan Tamtama Remaja Korps Marinir TNI Angkatan Laut resmi menyandang baret ungu usai menuntaskan Pendidikan Komando (Dikko) Korps Marinir. Penyematan baret dilakukan langsung oleh Panglima Korps Marinir Letjen TNI (Mar) Endi Supardi di Pantai Baruna, Malang Selatan, Senin (22/6/2026).
“Prosesi penyematan baret ungu menjadi puncak dari rangkaian Dikko Korps Marinir yang telah ditempuh para prajurit remaja selama kurang lebih dua bulan,” ujar Endi dalam siaran pers Dispen Korps Marinir, Selasa (23/6/2026).
Bagi Korps Marinir, pembaretan bukan sekadar seremoni, melainkan momentum sakral yang menandai lahirnya Prajurit Petarung Korps Marinir dengan identitas, kehormatan, dan kebanggaan sebagai pasukan pendarat amfibi TNI Angkatan Laut.
Sebelum resmi bergabung sebagai prajurit Korps Marinir, mereka harus melewati berbagai tahapan latihan yang dirancang untuk membentuk kemampuan fisik, mental, karakter, dan jiwa kepemimpinan.
Selama pendidikan, para prajurit menjalani lima tahap latihan, yakni Dasar Komando, Kelautan, Hutan Gunung, Perang Gerilya, dan Lawan Gerilya.
Seluruh tahapan itu menjadi bagian dari proses pembentukan prajurit komando Marinir yang dikenal sebagai pasukan pendarat amfibi TNI AL.
“Sebagai puncak latihan, para prajurit menjalani Tahap Lintas Medan (Limed) dengan menempuh perjalanan sejauh 300 hingga 350 kilometer dari Banyuwangi menuju Pantai Baruna, Malang Selatan,” jelas Endi.
Mereka berjalan kaki selama belasan hari sambil membawa perlengkapan tempur lengkap dan melewati berbagai medan yang menjadi ujian terakhir sebelum menerima baret ungu.
Dalam amanatnya, Endi menyampaikan selamat kepada para lulusan Pendidikan Komando Angkatan 178 dan 179 yang kini resmi menjadi bagian dari Korps Marinir TNI AL.
Menurut dia, seluruh rangkaian latihan yang telah dijalani bertujuan membentuk prajurit yang tangguh, disiplin, berani, dan profesional dalam menghadapi berbagai tantangan penugasan di masa depan.
Kalian telah melewati rangkaian latihan praktik komando khas Marinir yang berat dan menantang selama kurang lebih dua bulan,” kata Endi. Ia menegaskan bahwa status sebagai prajurit Marinir harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan dan menjaga kehormatan Korps Marinir dalam setiap penugasan.
Endi juga mengingatkan bahwa para prajurit tersebut merupakan bagian dari pasukan pendarat amfibi yang memiliki kualifikasi komando dan dipersiapkan untuk menghadapi berbagai operasi, termasuk di medan yang berat.
Upacara pembaretan di Pantai Baruna turut dihadiri sejumlah pejabat TNI AL dan Korps Marinir, di antaranya Dankodiklatal Letjen TNI (Mar) Nur Alamsyah, para Komandan Pasmar, pejabat utama Korps Marinir, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
(rendi/red)







